Budidaya Tanaman Wijen Cocok Untuk Lahan Tadah Hujan

Wijen (Sesamum indicum) merupakan salah satu tanaman tropis yang mudah dibudidayakan dan tahan kering. Wijen dapat tumbuh baik dengan curah hujan 450 – 600 mm selama masa tumbuhnya, menghendaki suhu udara tinggi dan kering. Tanaman semusim ini panen pada umur 2,5 – 5 bulan. Budidaya wijen relatif mudah, input rendah, dan resiko kegagalan kecil. Tumpangsari tanaman wijen dengan tanaman lain, misalnya palawija dan tanaman industri, mampu meningkatkan pendapatan petani.

Lahan tadah hujan adalah lahan pertanian yang pengairannya hanya mengandalkan air hujan dan irigasi sulit dilakukan atau biasa disebut lahan kering. Pada lahan tadah hujan, wijen dapat dibudidayakan pada lahan tegal pada awal musim hujan.  Apabila daerah tersebut memiliki embung, wijen juga dapat ditanam pada lahan sawah sesudah padi pada musim kemarau. Embung merupakan tempat menampung air pada musim hujan dan dapat digunakan untuk mengairi tanaman pada musim kemarau.

Biji wijen

 

Wijen termasuk tanaman tahan kering, sehingga apabila setelah berumur 2 bulan hingga panen tidak memperoleh air, tanaman akan tetap tumbuh dengan baik. Daerah sentra pengembangan komoditas wijen umumnya berada pada daerah kering, meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Lampung. Budidaya wijen dapat menjadi alternatif yang menguntungkan bagi petani di lahan tadah hujan, baik pada lahan tegal maupun lahan sawah sesudah padi termasuk petani yang memiliki lahan sempit. Petani di Sukoharjo dan Rembang mengatasi kekeringan dengan menanam wijen di lahan sawah sesudah padi. Hasil yang diperoleh sangat menggembirakan karena mutu wijen lebih baik dari pada saat musim hujan.

Petani memperlihatkan hasil panen wijen

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan beberapa varietas unggul wijen dengan tingkat produktivitas tinggi. Petani lahan kering dapat menggunakan varietas Sumberrejo (Sbr) 1, Sbr 2, atau Sbr 3.  Ketiga varietas tersebut mempunyai potensi produksi 1,3 ton/ha dengan umur panen 90 – 110 hari. Untuk lahan sawah sesudah padi, petani dapat menggunakan varietas Sbr 4. Varietas Sbr 4 sesuai digunakan pada MK-2  karena berumur genjah yaitu 75 – 85 hari, terutama untuk daerah tadah hujan yang menanam padi dengan sistem gogo rancah dan walik jerami dalam setahun. Keempat varietas tersebut merupakan jenis wijen putih yang digunakan dalam industri makanan ringan. Varietas Sbr 4 lebih disukai oleh industri makanan ringan karena bijinya kecil sehingga jumlah per kg nya banyak dan lebih lengket.

Pada lahan sawah tadah hujan yang menanam padi satu kali dalam setahun juga dapat menggunakan varietas Wijen Nasional (Winas) 1, Winas 2, dan Winas 3. Ketiga varietas Winas tersebut merupakan varietas untuk lahan sawah dengan umur panen 98-102 hari dan potensi produksi 1,8 – 2,2 ton/ha.

Untuk memproduksi 1 kg wijen membutuhkan biaya sebesar Rp 5.954,-. Dengan harga wijen Rp. 17.000,-/kg, petani bisa meraup keuntungan sebesar Rp. 11.046,-/kg. Apabila dalam 1 ha menghasilkan 1 ton biji wijen maka keuntungan bersih petani mencapai Rp. 11.046.000,-. Hasil tersebut dapat diperoleh dalam kurun waktu 5 bulan, artinya penghasilan petani per bulan sebesar Rp. 2.209.200,-. Budidaya wijen diharapkan dapat menjadi alternatif komoditas bagi petani lahan tadah hujan untuk dapat memperoleh keuntungan dan kesejahteraan yang lebih baik.

sumber berita

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan