Kentongan, Early Warning System Tradisional

Kenthongan adalah alat dari kayu atau bambu yang dilubangi ( rongga ), jika dipukul akan menimbulkan suara. Pada mulanya kenthongan bukan hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja, melainkan juga menunjukkan strata sosial pemiliknya. Kenthongan paling besar diletakkan di Balai Desa, Kadus dan yang terkecil di rumah – rumah warga ataupun pos ronda. Aturan tidak tertulis tersebut masih ditaati sampai sekarang. Walaupun alat komunikasi semakin canggih.

Pos Kamling wajib memiliki kentongan

Kenthongan sebagai alat komunikasi mempunyai sandi suara yang telah disepakati bersama. Setiap daerah mungkin saja berbeda tentang sandi suara kenthongan. Khususnya Jawa, secara umum ada beberapa penggolongan sandi suara ;

  1. Doro Muluk ( Burung Dara yang terbang secara vertikal )

Menandakan ada warga yang meninggal dunia. Dibunyikan 3 kali jika yang meninggal dewasa dan 2 kali jika yang meninggal anak – anak.

  1. Titir

Memberitahukan ada bahaya yang butuh pertolongan warga segera ( pencurian, kebakaran, bencana alam, dll ).

  1. Kenthong Sepisan

Menginstruksikan warga berkumpul untuk musyawarah atau kerja bhakti.

  1. Sambang

Dibunyikan menjelang tengah malam. Mengabarkan kurang lebihnya bahwa masih ada orang yang berjaga atau belum tidur. Biasanya akan disambut Sambang dari warga lain yang belum tidur.

  1. Gobyog

Dibunyikan pada masa – masa tertentu dalam perhitungan Bulan Jawa. Tidak jelas fungsinya, mungkin hanya sebagai penanda waktu.

Sementara itu menurut Kasimo, Kadus Jatiwayang, kentongan merupakan salah satu alat bebunyian yang di pukul sebagai sarana komunikasi pada jaman dahulu maupun jaman sekarang ini. Sebagai contoh semisal ada rapat dusun, seorang kepala dusun (kadus) tidak perlu berkeliling dari satu rumah ke rumah warga untuk mengajak berkumpul, cukup dengan memukul kentongan yang ada di rumah kadus kemudian warga akan mulai berdatangan dengan sendirinya.

Demikian juga bila ada kejadian yang sifatnya gawat darurat, seperti ada maling, bencana alam atau kejadian lain yang membutuhkan kewaspadaan dari warga, kentongan menjadi sarana komunikasi yang sangat praktis.

Tanda kentongan yang terpampang di pos kamling

Di Desa Tremes sendiri, bunyi kentongan dapat di bedakan berdasarkan berapa kali kentongan di pukul, Sugiman Kadus Tremes menerangkan maksud dan tujuan  kentongan di pukul berdasarkan jumlah di pukul sebagai berikut :

–           Satu kali sebagai tanda rojopati (kematian)

–           Dua kali sebagai tanda ono maling (pencurian)

–           Tiga kali sebagai tanda omah kobong (rumah terbakar)

–           Empat kali sebagai tanda bencana alam

–           Lima kali sebagai tanda kewan ilang (hewan hilang)

–           Enam kali sebagai tanda samar-samar (ada yang mencurigakan)

Dalam era kemajuan teknologi sekarang ini, kentongan tidak bisa di tinggalkan begitu saja. Bahkan teknologi peringatan dini atau Early Warning System (EWS) yang biasa di terapkan pada daerah-daerah rawan bencana, bisa di katakan memiliki cara kerja yang mirip dengan kentongan. Kecanggihan teknologi sekarang ini tentunya berdasar atas kekurangan yang ada pada teknologi jaman lampau yang di sempurnakan untuk kepentingan masyarakat pengguna teknologi tersebut.

Menjadi tanggungjawab generasi sekarang ini untuk dapat melestarikan apa yang menjadi tinggalan masa lalu, seperti hal nya kentongan ini. Karena tanpa kita sadari kehadiran media-media sosial yang tumbuh bagai jamur dewasa ini  secara perlahan akan menggantikan fungsi dari alat-alat tradisional, salah satunya kentongan. (admin/dari berbagai sumber)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan