Ketersediaan Lahan Desa Tremes Untuk Tanaman Kakao

Kualitas kakao di Kabupaten Wonogiri diakui yang terbaik se-Jawa Tengah. Jumlah produksi kakao juga menempati peringkat kedua terbesar di Jateng setelah Kabupaten Batang. Namun, hingga kini belum ada pabrik pengolahan cokelat di kabupaten tersebut.

Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia, Arif Zamroni mengungkapkan, produksi biji kakao di Kabupaten Wonogiri sekitar 12-15 ton per bulan. Namun, hingga kini belum ada pabrik cokelat di Wonogiri. Padahal, seluruh bahan baku seperti kakao, kacang, dan mete tersedia dalam jumlah besar di kabupaten tersebut.

TEMU USAHA: Para petani kakao, pengelola BUMDes, dan pelaku usaha menggelar pertemuan di Pemkab Wonogiri, Selasa (6/3). (suaramerdeka.com/Khalid Yogi)

“Kabupaten yang memproduksi kakao di Jateng antara lain Karanganyar, Batang, Temanggung, Salatiga, Pati, Purwokerto, Kebumen, dan Wonogiri. Penghasil terbesar ada di Kabupaten Batang, sedangkan Wonogiri menempati urutan ke dua,” katanya, usai mengikuti temu usaha antarusaha besar dan UKM di Pemkab Wonogiri, Selasa (6/3).

Menurut Arif, Wonogiri layak memiliki pabrik cokelat meskipun dalam skala kecil. “Pabrik kecil-kecilan dulu yang kapasitasnya tiga kilogram cokelat per hari atau satu kuintal per bulan,” ujarnya.

Pihaknya sedang merintis kerja sama dengan petani kakao dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Wonogiri. Kerja sama berupa penyediaan bahan baku kakao hingga pemasaran. Dia bahkan berani membeli biji kakao dalam jumlah tidak terbatas dari Wonogiri. “Berapa pun biji kakao kami siap beli,” imbuhnya.

Arif ingin memadukan potensi kakao dengan bisnis riil, yakni menghubungkan perdagangan biji kakao dengan industri. Selama ini, perdagangan biji kakao di kabupaten itu dikuasai tengkulak. Dia juga mendorong pengolahan biji kakao menjadi cokelat. “Kami siap bermitra di tataran manajemen dan menyiapkan pasar ke luar Wonogiri,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Kabupaten Wonogiri, Sudaryanto berharap temu usaha itu berlanjut dengan realisasi usaha agar bermanfaat bagi masyarakat Wonogiri.

Beberapa kecamatan penghasil kakao antara lain Girimarto, Jatipurno, Slogohimo, dan Ngadirojo. “Saya harap ada pabrik kecil-kecilan dulu. Sebab, semua bahan baku cokelat yang dibutuhkan seperti kakao dan mete banyak terdapat di Wonogiri,” katanya.

Salah satu tanaman kakao di kebun warga

Di Desa Tremes sendiri potensi pengembangan untuk budidaya tanaman ini masih terbuka cukup luas, karena masih banyak ketersediaan lahan yang dapat di gunakan sebagai tempat untuk budidaya tanaman ini. Memang terlihat sedikit banyak tanaman kakao ini di kebun-kebun warga, akan tetapi belum adanya sosialisasi terkait peluang dari buah kakao yang luar biasa membuat warga belum berminat untuk membudidayakan tanaman ini secara luas.(dari suara merdeka/berbagai sumber)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan