Mak Nyuss Oseng-Oseng Keong Tremes

Hama keong yang meresahkan (foto:kabartani.com)

Tremes (20/03/2018)- Sebagaimana daerah-daerah lain yang memiliki lahan persawahan yang luas, siput atau keong menjadi ancaman tersendiri bagi petani dalam mengolah lahan persawahannya untuk mendapatkan hasil padi yang maksimal.

Siput adalah hewan herbivora atau pemakan tumbuhan Sebelum dikenal sebagai makanan, keong sawah atau tutut termasuk hama padi. Keong ini hidup ini sawah yang penuh air dan ‘merajalela’ jelang padi mulai tumbuh. Karena tinggal di area dengan lahan persawahan yang luas dan air yang banyak, keong sawah pun akan menyantap tumbuhan yang ada di sekitarnya. Sayangnya, keong sawah ini seringkali menyantap tanaman padi budidaya dibanding dengan gulma di sawah. Tak heran, keong sawah kerap jadi musuh petani dan padi.

                              Keong yang bisa jadikan bahan masakan

Tak cuma dimakan, keong-keong ini juga seringkali memanfaatkan batang padi untuk lokasi bertelur. Karena perkembangbiakannya yang cepat, membuat petani seringkali kelabakan untuk mengatasinya. Berbagai cara dilakukan misalnya dengan melepas bebek di area sawah (sebagai musuh alami keong), memungut satu-satu, sampai penggunaan pestisida.

Tak cuma itu, memanfaatkannya sebagai bahan pangan juga dilakukan untuk membantu mengurangi populasi hama keong sawah. Selain itu, keong juga jadi bahan pangan pilihan masyarakat karena mudah didapat, murah, dan enak.

Keong sawah sendiri secara umum dibagi menjadi keong yang beracun dan tak beracun. Keong sawah beracun adalah keong mas. Seperti namanya, keong ini memiliki cangkang atau rumah keong yang berwarna keemasan. Sedangkan keong sawah yang tak beracun adalah keong dengan warna cangkang yang sedikit hijau sampai kehitaman. Keong sawah jenis inilah yang kerap disebut sebagai tutut. Hewan yang masuk dalam kelompok molusca atau bertubuh lunak ini juga punya nama lain seperti keong godang, siput sawah, siput air, kraca, dan lainnya.

                Oseng-oseng keong paling enak dengan nasi yang hangat

Masyarakat Desa Tremes biasa mengolah keong sawah ini dengan berbagai cara, misalnya ditumis, digoreng, disayur, atau direbus. Ada yang mengolahnya langsung bersama cangkang ataupun dihilangkan cangkangnya terlebih dulu, tapi kebanyakan warga mengolahnya dalam bentuk tumisan keong yang di campur dengan cabe rawit hijau. Tekstur dagingnya yang kenyal dan rasanya yang gurih dianggap jadi daya tarik keong sawah. Selain itu, kandungan gizi yang tinggi juga diklaim bisa dipakai sebagai alternatif sumber protein di masa depan.

Cara pembuatan masakan ini pun sangat mudah, pertama bahan yang di siapkan :

  Keong sawah

  3 buah bawang merah

  2 buah bawang putih

  1 cm jahe di geprek

  sesuai selera Cabe rawit

  Garam, gula, dan penyedap rasa

  Kecap manis

  1 gelas kecil Air

Kemudian

  Rebus keong sawah lalu bersihkan, iris” sesuai selera

  Iris semua bumbu

  Oseng smua bumbu,, lalu masukkan keong sawah. Tambahkan air dan kecap lebih awal agar meresap

  Tunggu hingga air surut lalu tambahkan gula garam dan penyedap rasa.

  Koreksi rasa, kalau sudah pas masakan siap dihidangkan.

Mengutip Persatuan Ahli Gizi Indonesia dalam buku Tabel Komposisi Pangan Indonesia (2009), keong sawah mengandung protein 12 gram, lemak 1 gram, energi 64 kkal, air 81 gram, karbohidrat 2 gram, dan kalsium 217 miligram. Semua nilai gizi tersebut bisa didapatkan dalam 100 gram keong. Sebagai perbandingan, satu ekor keong sawah dewasa memiliki berat daging antara 4-5 gram.(dari berbagai sumber)

Facebook Comments

1 Comment

Tinggalkan Balasan