Pedagang Sayur Keliling, Sektor Usaha Tahan Banting

Berbelanja di pasar tradisional bagi sebagian ibu-ibu rumah tangga adalah salah satu hal yang paling menyenangkan, tapi bagi sebagian lagi kegiatan tersebut melelahkan. Bagaimana tidak, bagi ibu-ibu rumah tangga yang memeliki pekerjaan utama semisal kerja kantoran, mungkin tidak banyak waktu yang tersedia untuk berbelanja di pasar-pasar tradisional.

Salah satu solusi yang gampang adalah menunggu pedagang sayur keliling untuk berbelanja kebutuhan dapurnya. Tidak hanya di kota-kota besar saja, sekarang ini di setiap sudut desa, di pagi hari dapat dipastikan sebagai tempat mangkalnya para pedagang sayur keliling. Berbagai macama sayuran dan kebutuhan dapur lainnya dapat di peroleh dengan mudah dari  pedagang sayur keliling ini. Jika pun tidak ada pada hari itu, biasanya keesokan harinya di bawakan sesuai dengan pesanan.

Ternyata dibutuhkan satu keuletan tersendiri bagi pedagang sayur ini untuk dapat berdagang tiap hari, bayangkan saja tiap hari wajib bangun jam 1-2 malam untuk berangkat mencari barang dagangan ke pasar tradisional. Seperti yang di sampaikan oleh Tarmin Hardiyanto, pedagang sayur keliling dari Dusun Semanding RT 04 RW 04 ini, di sela-sela melayani pembeli dari ibu-ibu rumah tangga pria kelahiran 63 tahun yang lalu ini bercerita tiap jam 1 malam harus sudah bangun untuk bersiap-siap ke pasar Sidoharjo membeli sayuran dan aneka barang dagangan yan lain untuk di jajakan ke desa-desa.

“Jam 2 malam paling lambat harus sudah berangkat ke pasar mas,” kata Tarmin H, ” Biar kelilingnya tidak kesiangan, soalnya kalo kesiangan pasti keduluan sama pedangang sayur yang lain.”

Tarmin H, meskipun sudah mulai uzur tetap semangat berdagang

Pekerjaan yang sudah di jalani selama kurang lebih 5 tahun ini di lakukan bersama Evi Riatun (39 tahun) anak perempuannya  dengan membawa mobil bak terbuka yang sudah di modifikasi seperti mobil toko. Aneka kebutuhan dapur di bawa mulai dari perjalanan sepanjang pasar Sidoharjo, sampai dengan desa Selorejo Kecamatan Jatisrono yang berjarak sekitar 15 km.

Pedagang sayur keliling ini termasuk salah satu usaha yang mengalami perkembangan secara pesat, perputaran uang di usaha ini bisa dikatakan sangat cepat. Karena pendapatan yang di raih hari itu nantinya akan di gunakan sebagai modal belanja untuk hari esoknya. Dan dapat dikatakan usaha ini juga sebagai salah satu usaha yang tahan banting.

Di Desa Tremes sendiri banyak warga yang ikut usaha sebagai pedagang sayur keliling, tercatat dari 7 dusun dapat dipastikan minimal ada satu orang yang menggeluti usaha ini. Meskipun belum tercatat secara resmi , di dusun Semanding tercatat yang paling banyak memiliki warga yang berprofesi sebagai pedagang sayur keliling.

Ibu-ibu segera berdatangan begitu pedagang sayur keliling parkir kendaraan

“ Yo rodo kepenak mas enek bakul sayur ngene iki “ ujar Wulan warga Dusun Kerok, “ Kita ndak perlu ke pasar, cukup nunggu depan rumah sayur sudah datang.”

Memang dengan adanya pedagang sayur keliling ini sedikit banyak menambah waktu senggang bagi ibu-ibu rumah tangga, selain tidak perlu ke pasar mereka juga bisa berbelanja sambal menyuapi anaknya (bagi yang memiliki anak kecil). Akan tetapi usaha ini juga memiliki efek yang negative, di antaranya kehadiran mereka membuat pasar tradisional berkurang jumlah pembeli, kemudian banyak sekali ibu-ibu rumah tangga menjadikan waktu berbelanja di pedagang sayur keliling ini sebagai tempat bergosip. Hal ini wajar, mengingat dalam setiap perkembangan jaman pasti ada 2 efek, positip dan negatip, sekarang tinggal bagaimana kita bisa mensikapinya. (admin)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan