Semar Di Semanding

Patung Semar di sudut jalan raya Semanding

Semanding (31/01/2018) – Semar adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan wairacarita Mahabharata dan Ramayana dari India. Meski demikian, nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut (berbahasa Sanskerta), karena tokoh ini merupakan ciptaan tulen pujangga Jawa.

Patung Semar di sudut jalan raya Semanding

Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar selalu tersenyum, tetapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tetapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tetapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.

Jika kita melintasi jalan raya Sidoharjo-Jatisrono pada kilometer 3 di sebelah kanan jalan, tepatnya sehabis Klinik Semanding dari arah Sidoharjo, tampak sosok patung semar tokoh pewayanganan sebagaimana di kisahkan diatas.

Patung setinggi 2 m ini tampak begitu identic dengan keberadaan Dusun Semanding, karena selain posisinya yang terletak di pinggir jalan raya keberadaannya juga tampak mencolok karena berada pada sudut jalan. Sehingga dari sudut manapun orang yang melintas di Dusun Semanding akan melihat patung ini.

Keberadaan patung ini sendiri pada awal tahun 1980-an, sebagaimana di kisahkan oleh Ibu Samiyem yang tinggal bersebelahan dengan lokasi patung ini berdiri, bahwa dahulu pernah ada seorang warga dari Kota Surakarta yang berobat pada warga Semanding karena menderita suatu penyakit yang sudah lama tak kunjung sembuh. Setelah beberapa saat di tangani oleh Mbah Kasan , sesepuh Dusun Semanding yang memiliki keahlian dalam pengobatan tradisional dan karena Ridho dari Yang Maha Kuasa singkat cerita mendapatkan kesembuhan.

Sebagai ungkapan syukur atas kesembuhan itu, di bangunlah sebuah patung tokoh pewayangan sebagaimana di ceritakan di atas. Jadi pembangunan patung ini tidak ada motif mistik sama sekali, hanya ungkapan perasaan syukur atas kesembuhan yang didapatkan.(Admin)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan