Sukino Dalang Wayang Kulit Nunggulan

Tremes – Sukino, dalang wayang kulit warga Dusun Nunggulan Tremes, bertekad untuk menjaga kelestarian budaya tradisional Jawa yang penuh dengan muatan etika dan norma kehidupan.

Bagi sebagian kalangan muda sekarang ini, tidak banyak yang menyukai dengan seni pertunjukan wayang kulit. Tidak banyak generasi sekarang ini yang konsisten untuk mejaga kelestarian dari seni dan budaya yang begitu luhur ini.

Di tengah gempuran budaya global yang begitu mudah diakses masyarakat, Sukino, salah satu warga Desa Tremes yang masih menekuni seni pertunjukan yang biasanya memakan waktu semalaman ini.

Dalang Sukino ketika ditemui di KBD Tremes

Pria paruh baya dengan 2 orang putra-putri  bercerita mulai belajar menjadi dalang semenjak pertengahan tahun 1980-an, di awali dari menjadi penabuh gamelan sebelum memberanikan diri untuk tampil di depan kelir memainkan tokoh-tokoh perwayangan.

Lakon pertama yang beliau mainkan berjudul  “Wahyu Tejomoyo”, setelah 3 kali ikut bermain sebagai penabuh gamelan . Masih ingat dalam benak Dalang Sukino bahwa Mbah Warno, sesepuh Dusun Nunggulan yang pada saat itu mendorongnya untuk berani mendalang. Meskipun belum pernah belajar secara khusus ilmu “perdalangan”.

Terkenal sebagai dalang yang sesuai pakem, Dalang Sukino mengidolakan dalang kondang Ki Anom Suroto. Tidak mengherankan kalau pakem favorit yang sering beliau mainkan berjudul “Wahyu Katentreman”, selain karena sesuai dengan pakem banyak masyarakat yang meminta untuk memainkan lakon tersebut.

Ilustrasi Pagelaran wayang kulit

Menurut beliau, dalam perwayangan yang menjadi daya magis sebenarnya bukan pada lakon yang akan di mainkan, akan tetapi dalam setiap pementasan pasti ada salah satu tokoh pewayangan yang memberikan aura positip pada warga yang menanggapnya. Hal ini lah yang menjadikan Dalang Sukino sebagai dalang spesial ruwatan ataupun acara bersih dusun, banyak warga yang mendapatkan hal-hal positip setelah di ruwat Dalang Sukino.

Dalang Sukino merupakan salah satu pelaku seni yang berusaha menjaga eksistensi kebudayaan tradisional Jawa sebagai cirikhas masyarakat yang tinggal di Jawa. Sering kali beliau mendapatkan tanggapan untuk pementasan wayang kulit di Luar Jawa, karena banyak warga Desa Tremes yang tinggal di perantauan yang masih menjaga adat istiadat daerah asal meskipun sudah lama menetap di luar Jawa.

Hal inilah yang kemudian menjadikan beliau untuk bersemangat dan bertekad tetap menjadi orang Jawa denga kepribadian Jawa, bukan orang Jawa yang telah hilang ke-Jawa-annya.  Semoga hal tersebut menjadi lecutan semangat bagi generasi muda untuk tetap dengan ke-Jawa-annya di tengah arus globalisasi dan modernisasi. (admin)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan